Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juni 2014

Fly With The Dragons!! : How to Train Your Dragon 2



Sudah lama gue nggak terpincut trailer film animasi sampai akhirnya gue lihat trailer How to Train Your Dragon 2. Asli keren. Ini baru trailer yang oke karena bikin calon penonton penasaran untuk mengetahui film utuhnya. Wajar kalau ekspektasi gue terhadap film ini jadi tinggi, dan gue sama sekali nggak dikecewakan.

Kisah HTTYD 2 terjadi 5 tahun setelah film prekuelnya. Bangsa Viking yang tadinya bermusuhan dengan naga sekarang sangat mencintai makhluk itu. Hampir semua penduduk Berk, nama desa Bangsa Viking tinggal, memiliki naga untuk membantu kehidupan sehari-hari mereka.

Tokoh utama film ini,Hiccup, anak kepala suku Stoick, sedang resah karena sang ayah hendak menjadikan dirinya pewaris posisi tersebut. Ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk menjadi kepala suku dan jauh lebih senang berpetualang mencari tanah tak dikenal bersama naganya, Toothless. Di tengah pergulatan pribadinya itu, Hiccup bertemu dengan kawanan penjerat naga. Dari penjerat naga ini Hiccup mengetahui bahwa seseorang bernama Drago Bludvist berusaha mengumpulkan naga di seluruh daerah demi membentuk pasukan.

Kepala Suku Stoick ternyata mengenali Bludvist dan langsung menyatakan agar Berk bersiap menghadapi perang. Hiccup yang tidak ingin hanya diam menunggu Bludvist menyerang Berk bersikeras mencari Bludvist terlebih dahulu dan membujuknya untuk membatalkan peperangan. Di dalam perjalanannya inilah Hiccup bertemu dengan sosok yang tidak disangka-sangka.

Dari awal film, penonton akan dimanjakan oleh animasi 3D yang luar biasa indah dan penuh aksi. Gue hanya nonton versi 2D dan berhasil dibuat terpukau, bisa dibayangkan jika nonton film ini dalam format 3D atau 4D. Sensasi mengendarai naga di langit luas dalam kecepatan tinggi akan jadi jauh lebih nyata. Desain naga yang variatif dan menarik kerap membuat gue bingung harus fokus mengikuti jalan cerita atau memperhatikan detil-detil menawan di sepanjang film. Dreamworks benar-benar niat dalam menggarap tampilan visual HTTYD 2.

Plot cerita cukup oke untuk film yang ditujukan untuk semua umur. Pencarian jati diri Hiccup, pertemuan dengan figur yang selama ini hilang, dendam lama yang muncul kembali, tema-tema yang bisa dibilang ringan dan klise ini dapat diramu dengan baik. Adapun dari segi karakter, gue merasa villain-nya kurang greget. Mungkin salah satu alasannya adalah karena desain karakternya yang sebenarnya pingin dibuat seram namun malah jadi lucu karena badannya berbentuk kotak padat khas desain lelaki dewasa di film ini. Satu lagi yang bikin gue kecewa adalah Astrid, pacar Hiccup yang terlihat dominan di poster pun ternyata porsi perannya tidak sebesar foto posternya. Akan tetapi mengingat durasi film yang pendek, bisa dimaklumi jika karakter pendukung tidak terlalu tergali secara dalam.

HTTYD 2 adalah teman liburan yang pas untuk anak-anak. Tadi aja waktu gue nonton bioskop penuh anak-anak hahaha. Film keluarga yang sayang banget kalau dilewatkan.

"And with Vikings on the backs of dragons, the world just got a whole lot bigger"-  Hiccup

So let’s fly with the dragons!!

      

Senin, 09 Juni 2014

Maleficent : Another Side of The Legendary Villain


Gue termasuk orang yang jarang nonton film di bioskop..well gue termasuk jarang nonton film secara umum, kecuali film animasi. Makanya impulsivitas gue dan teman-teman untuk menjawab godaan poster Maleficent di 21 Depok Town Square tempo hari patut diacungi jempol,biar kata ada salah satu teman nonton gue itu beneran maniak film. Impulsivitas itu pula juga yang membuat gue tergelitik untuk mengangkat Maleficent sebagai review film pertama gue (yei), disusul beberapa tanda tanya yang terjawab setelah nonton.

Ada beberapa tanda tanya besar yang mengemuka ketika gue tahu Disney Pictures bikin live action adaptasi karya klasik mereka (lagi). Pertama, gue masih trauma dengan live action Alice in Wonderland terdahulu. Cerita yang penuh fantasi jadi terkesan serius dan membosankan (maaf buat yang suka karya adaptasi itu). Kira-kira bagaimana Disney meramu karya mereka kali ini?

Kedua, tokoh yang diangkat jadi pemeran utama adalah sosok jahat, Maleficent dari Sleeping Beauty. Biasanya dongeng klasik punya penggolongan saklek antara si baik dan si jahat. Area abu-abu di dongeng klasik hampir bisa dikatakan tidak eksis. Maleficent macam apa yang disodorkan Disney dalam film ini? Pure Evil seperti dahulu atau ada sesuatu yang berbeda?

Ketiga, tentu saja nama besar Angelina Jolie. Seperti apa Maleficent versi Jolie? Gue menatap layar bioskop lebar-lebar agar semua pertanyaan gue itu bisa terjawab.

Apabila di karya klasiknya, Maleficent “sudah jahat dari lahir”,pada film ini diceritakan tadinya Maleficent merupakan peri yang baik hati sebelum akhirnya sebuah pengkhianatan mengubahnya menjadi pribadi yang tidak berperasaan. The Moors, negeri dongeng indah yang seharusnya dijaga oleh Maleficent berubah menjadi tempat angker dan terisolasi dari dunia luar. Kisah masa lalu Maleficent ini lalu berlanjut dengan alur cerita Sleeping Beauty klasik. Tentunya dengan sejumlah kejutan yang tidak disangka-sangka dan jauh lebih gelap karena sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang sang villain, Maleficent.

Dari segi visual effect, film ini patut diacungi jempol karena berhasil menyajikan gambar-gambar indah dan adegan-adegan pertarungan fantasi yang seru. Penonton bisa dipastikan tidak akan mengantuk sepanjang film. Hal yang agak mengganjal ada di proses editing adegan. Ada beberapa adegan yang terasa kurang mengalir, tapi secara keseluruhan tidak mengganggu alur cerita.

Plot Maleficent sendiri menurut gue cukup oke untuk ukuran film fantasi yang diadaptasi dari dongeng walau tetap termasuk gampang ditebak dan beberapa adegan terasa tidak masuk akal. Misalnya waktu Maleficent mengejar waktu untuk mencegah Aurora sang Sleeping Beauty tertusuk jarum pintal. Kenapa dia bukan mengubah gagak suruhannya jadi makhluk terbang agar bisa mencapai istana dengan cepat tapi malah naik kuda? Dramatis sih, tapi buat penonton yang kritis atau sudah dewasa pasti terasa janggal.  

Akting Angelina Jolie sebagai Maleficent, terutama saat berperan sebagai Maleficent jahat, mirip banget dengan versi animasinya bahkan di saat-saat tertentu jauh lebih menakutkan. Emang kece mbak satu ini. Belakangan gue baru tahu pemeran Aurora ternyata aktris terkenal, Elle Fanning. Aurora versi Fanning cocok dengan imej anak umur 16 tahun yang imut, kinyis-kinyis dan lugu karena hidup dalam pengasingan.

Film dipungkas dengan lagu soundtrack yang juga muncul di Sleeping Beauty versi animasi, Once Upon a Dream, yang setelah diaransemen ulang kedengerannya jadi gothic dan menyeramkan. Perubahan ini sesuai dengan nuansa kegelapan yang menyelimuti film ini.

Gue cukup puas dengan Maleficent sebagai suatu terobosan dari usaha mengolah kembali karya klasik dengan sentuhan fresh, sesuai dengan tagline-nya Discover a Story You Never Knew. Tidak sempurna, tapi layak diapresiasi sebagai film yang menghibur.