Kamis, 10 April 2014

9 April 2014 : Galau Pileg



9 April 2014, Pemilu legistatif resmi dimulai. Gue yang masih harap-harap cemas pingin dikasih amplop oleh para caleg harus menerima kenyataan bahwa nggak ada satu pun tambahan uang saku gue dapatkan. Setelah perjalanan yang superlancar dari Depok ke Karawang dan makan soto hangat untuk mengisi perut, gue dan nyokap masih iseng mau nyari nama-nama calon di website KPU. Sepertinya banyak orang pakai jurus kepepet yang sama karena website KPU tiba-tiba susah diakses. Nggak sabar, akhirnya kita berdua sepakat untuk mengandalkan intuisi dan ingatan tentang track record caleg yang akan dicoblos (jangan ditiru ya =_=a)

Gue dan nyokap sama-sama terdaftar di TPS 15. Kami segera sibuk di bilik suara masing-masing begitu petugas TPS menyerahkan  empat kertas suara dengan warna pelangi : merah, kuning, hijau, dan biru. Ukuran kertasnya lebih besar dari kertas koran, gue langsung dapat membayangkan pusingnya mencari nama (buat mereka yang udah tahu mau coblos siapa) atau membulatkan keputusan untuk mencoblos satu dari puluhan nama asing yang tercantum di sana (contohnya macam gue ini).

Di tingkat DPR RI masih banyak nama yang gue kenal karena mereka sering disorot media. Begitu masuk DPRD provinsi dan yang sisanya, kening  gue berkerut bingung. Ragu. Takut salah pilih (siapa suruh ga riset duluuuu). Ujung-ujungnya? Gue mencoblos tiga partai berbeda untuk DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten. Berulang kali gue mengucap basmallah supaya hasil merenung kilat ini bisa memberikan hasil baik bagi Indonesia sambil memasukkan kotak suara ke tempatnya masing-masing sesuai warnanya.

Entah berapa banyak orang yang mengalami kesulitan serupa dengan gue yang menghabiskan hampir 15 menit di dalam bilik suara untuk mikir. Di saat gue tahu politik uang masih menjadi metode favorit mendulang simpati walau si caleg bisa tanpa malu menuliskan “jujur dan bersih” di spanduk bergambar foto mereka yang mengotori wajah kota. Di saat gue sadar banyak caleg bahkan nggak punya visi-misi jelas dan masih nekat maju jadi anggota dewan. Di saat gue mengerti kenapa banyak orang dengan latar belakang oke enggan berpolitik karena kebobrokan yang membuat mereka jijik. ..

Daripada ngomel, lebih bijak jika berbuat sesuatu untuk membuat keadaan jadi lebih baik, walau hanya sedikit. Bismillah. Semoga sumbangan yang nggak berarti ini, satu suara dari seorang Riztianti Setiamurdiawati, dapat turut membawa Indonesia ke arah perubahan positif.


Buat teman-teman anak rantau yang di Pileg nggak nyoblos, yang presiden jangan absen lagi ya bro-sis! Sayang kalau kertas suara kalian malah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang gak bertanggung jawab!

Pemilihan umum kini telah tiba..

Ayo songsong dengan gembira..

Minggu, 06 April 2014

Perenungan Misteri Kehidupan


Kesendirian dan perasaan negatif cenderung membuat gue produktif nulis =_=a Yang satu ini juga termasuk tulisan edisi "menyemangati-diri-yang-sedang-terpuruk". Jangan-jangan gue musti nyemplung jadi melankolis-suicidal dulu supaya rajin nulis lagi....(jangan lah Ti :p). Buat yang baca, semoga nggak tertular kesumpekannya, endingnya motivasional kok hehe.


Perenungan Misteri Kehidupan

Gadis itu duduk sembari memeluk lutut. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam seolah menghindar dari penilaian semesta. Dua matanya terpejam, berusaha menahan bulir-bulir air yang menyeruak ingin lepas dari pelupuk. Air memang tidak tumpah, namun sebagai gantinya ia merasakan guncangan lemah datang dari seluruh tubuhnya. Guncangan yang membawa gelombang kenangan. Satu per satu menyapa saraf visual di dalam otak, membentuk kilatan-kilatan sketsa kejadian yang telah silam. 

Entah mengapa warna yang dominan muncul adalah semburat kelabu. Gelap, dingin, serta memancarkan rasa putus asa. Gadis itu menghela napas pelan. Canda tawa yang pernah mengisi waktunya terasa seperti mimpi saja, lewat tak berbekas. Ah, bukannya sama sekali hilang tanpa jejak..Jejak itu ternyata begitu nyata. Jejak kekosongan dalam hati. Lubang menganga yang menuntuk diri untuk ditambal segera namun entah material apa yang harus sang gadis gunakan untuk menutupnya. Lubang yang sangat mewah dan istimewa, sekaligus menyiksa jiwa. 

Sungguh, sang gadis merasa sangat beruntung memperoleh kesempatan untuk berpikir, mempertanyakan, dan dipusingkan oleh hal ini. Banyak orang yang bahkan tidak punya waktu untuk merenungkannya, karena sang hidup menakan mereka hingga sulit bergerak. Harus menjalani realita sebaik-baiknya dalam suatu rangkaian aksi yang hampir otomatis.

Setetes air mata berhasil menyusup ke cuping hidung si gadis. Ia senang, rutuknya, namun ia juga hampir gila karena tak kunjung menemukan jawaban dari perenungannya selama ini. Akan lebih sederhana mengikuti arus seperti orang pada umumnya..Ia tahu pasti akan hal itu. Ia tahu lebih dari siapa pun. 

Namun ia tidak tega membohongi nuraninya sendiri. Hati kecil yang kerap membawanya ke labirin penuh misteri. Labirin mengenai arti hidup. Labirin yang menjanjikan makna keberadaan diri yang sampai kini masih meninggalkan si gadis dalam dunia penuh tanda tanya. 

Ia ingin tahu, sekaligus takut. Kotak-kotak di depan si gadis begitu menarik untuk dibuka, namun tidak semuanya berisikan bunga indah. Beberapa ranjau tersimpan di dalamnya. 

Sementara itu, sang lubang masih terus meraung, menuntut renovasi. 

Tubuh sang gadis bergetar lagi. Tangan-tangan imajiner di dalam pikirannya bergerak takut-takut membuka kotak-kotak yang selama ini teronggok di hamparan padang misteri hidup. 

"Akankah aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini?"

"Kalau nggak dicoba, bagaimana mau tahu hasilnya?"

"Gagal bukan akhir segalanya, just give it a try."

Setitik warna cerah mengintip dari salah satu kotak, bagai pertanda senyuman akan kembali mengisi lembaran putih. Gadis itu berjalan pergi, melangkah sambil berusaha menguatkan diri. 


Arti Reuni - Sebuah Ironi



Setengah-puisi-setengah-cerpen ini adalah hasil corat-coret gue ketika sedang suntuk dan ujung-ujungnya kebanyakan mikir. Gue lupa apa yang dulu jadi ilham untuk nulis ini, tapi yang jelas pandangan gue mengenai reuni kurang-lebih tergambar di dalamnya. Karena nulis merupakan salah satu metode katarsis gue, maaf kalo isinya agak negatif.  I used to be a bitter person, and sometimes the bitterness still emerges unconsciously :3

Well then, douzo!


Arti Reuni - Sebuah Ironi

Reuni bukan sekedar temu kangen untuk membangkitkan kenangan.
Senang atau tidak, reuni berarti masuk pada ajang perbandingan tentang pencapaian selama berpisah jarak
Kelegaan menyeruak ketika tahu jarak masih belum terpaut jauh.
Rasa tidak aman dan benci pada diri kerap muncul saat diri ini masih merangkak di saat yang lain mulai terbang.

Setiap orang punya ritme masing-masing.
Jalan hidup masing-masing.
Yang harus dilakukan adalah berusaha memperjuangkan apa yang pantas diperjuangkan.
Memahami apa yang menurut masing-masing orang adalah sesuatu hal yang berharga.
Begitu berulang-kali aku menenangkan diri, sambil tersenyum manis menyembunyikan kegelisahan dalam hati.

Reuni, ketika mesin waktu mulai bergerak mundur.
Kenangan pahit, manis bercampur baur.
Membawa nuansa yang selalu mengundang perasaan rindu, atau mungkin perasaan syukur.
Karena masa-masa sulit sekarang dapat dikenang sambil mengulum senyum.

Reuni kadang jadi ajang basa-basi.
Pamer aktualisasi diri.
Sampai memang murni mempererat silaturahmi.
Mau alasan apapun, reuni tetap dinanti.
Demi nostalgia dan keabadian memori.